mimpi untuk merdeka

Bukankah sedari dulu memang yang merdeka adalah negaranya bukan manusianya?

Sewaktu aku lahir, telah ada beberapa hal dari dalam diriku yang telah ditentukan oleh lingkungan keluarga. Semakin aku menjadi besar, semakin beberapa hal dari diriku ditentukan oleh lingkungan masyarakat, dan menjadi besar lagi semakin ada beberapa hal dalam diriku yang ditentukan oleh sesuatu yang aku yakini. Begitulah seterusnya......

lalu bila begini apalagi yang mesti dipertanyakan dan perlu dijawab. yang perlu dilakukan hanyalah jangan melanggar yang sudah ditentukan dan berjalan di jalan yang sudah ditentukan.

Kurasa semua manusia begitu, namun hanya persentasenya yang berbeda. Mungkin kebebasan orang barat lebih besar persentasenya dibandingkan aku di sini.

beberapa hal yang sensitif sudah ditentukan, lalu aku mau apa?

Serasa menyakitkan, bukan? tapi yang mencoba melanggar sedari dulu pun tak mendapatkan kebebasannya dan hanya berakhir dengan cerita tragis, lalu aku mau apa?

Pernahkah kau mencoba melanggar dan apa yang kau lihat di depan mata hanyalah linangan air mata dan senyum yang bengkok dari orang-orang terdekatmu? apa kau merasa nyaman, lalu aku mau apa?

Ujung-ujungnya, memang yang diakui itu adalah kemerdekaan bangsa ini, tapi bukan manusianya.

Lalu aku mau apa?

Dari Gadis Kecilmu, mama

Saat mengungkapkan ini yang ada di dalam pikiranku adalah gambar mama dengan baju lusuh satu tangan memegang penggorengan dan satu lagi memegang ember.

Anak-anak mama waktu itu tertawa sekali dan mama menjadi merajuk kecil.

Mama, ketika kuiingat foto itu, tahukah mama, bahwa di sana kau mencerminkan seorang wanita yang kuat. Dan begitulah kau mengajarkanku menjadi wanita yang cerdas dan kuat.

Pesan mama, menjadi wanita itu tak mudah, menjadi wanita itu harus tahan sakit dan menumbuhkan anak perempuan itu tidak mudah. Wanita itu harus bisa menjaga dirinya sendiri.

Mama....sekarang barulah aku sadar, yang kau didikkan padaku saat aku kecil adalah agar aku jadi kuat. Mama melarang om membantuku mengeluarkan sepeda motor saat SMP, mama mendaftarkan barang belanjaan dan membebaskanku ke pasar dengan sejumlah uang, mama membiarkan ku kelas 3 SD bersepeda ke sekolah, mama membiarkanku jatuh dari sepeda motor, mama membiarkanku membawa motor, mama meninggalkanku sekali-kali

Mama, bila orang hanya membaca kalimat di atas mesti mereka pikir mama ibu tiri hehehe, tapi mama, sekarang beginilah aku. Aku rasa mama berhasil menjadikanku wanita yang kuat di antara gadis seusiaku.

Mama, tahukah banyak yang tidak menyangkan bahwa mama akan membiarkanku tinggal dan mengurus sendiri segalanya di sini, di seberang pulau tempat mama tinggal, tanpa orang yang kukenal bahkan keluarga, aku sendiri di sini mama.....

orang-orang menggeleng-geleng setiap menanyakannya padaku, tapi aku kagum pada mama. betapa beraninya mama, betapa berkorbannya mama, betapa mama mempercayaiku.

Mama, ingatlah terus janjiku di semester 2 bahwa sebelum mama & papah bahagia, adik dan kaka hidup terjamin, aku tidak akan memikirkan kesenanganku sendiri.
Mama bilang, jangan berkorban seperti itu.

Mama, ini bukan pengorbanan karena aku tidak merasa sakit sama sekali, mama....ini adalah impianku, mama.....

mama, walaupun aku bukan anak pertama mama, tapi aku merasa aku harus melakukan ini, mama.....karena Nita sayang mama....Tidak ada yang lain. Semua untuk mama.

karena itu mama harus bahagia, karena kebahagiaan mama adalah keberhasilan bagiku, mama.

Mama, tunggulah satu tahun lagi, aku akan membawamu ke gedung UGM yang besar dan akan kau dengar namamu di sebut di ribuan orang itu dan dengan bangga kau dengar keberhasilanmu menumbuhkan gadis kecil ini.

Gadis kecil ini belum dewasa, tapi dia tidak akan menjadi kekanak-kanakan dan membuat mamanya khawatir apalagi menangis.

Mama..........Hari ini untuk mama.

Betapa sulitnya....

Mengatakan hal-hal seperti ini.
Bukannya tidak mengakui suasana 'romance', tapi memang tidak terbiasa mengatakannya.

Dulu pernah berpikir, apalah arti sebuah kata-kata.

Tapi suatu hari........hanya dengan 3 kata, bisa mewakili beberapa tindakan.

Kau tau kenapa aku begitu takut dengan rasa? karena rasa itu melemahkan.

kadang-kadang aku berpikir dan kadang merasa, sebenarnya jauh di dalam hati lubangan hitam sana, sebenarnya aku adalah orang yang rapuh dan cengeng T_T
Tapi dengan menjadi murni seperti itu, berdasarkan pengalaman yang biasanya hanya tersisa rasa takut dan penyesalannya, aku tak pernah bisa menjadi murni lagi dengan perasaanku.

rasa-rasanya sudah tercampur dengan segala mekanisme defensenya bila sudah bermain rasa.

sehingga, terkadang sangat jelas kupahami orang yang senang berasionalisasi dan berintelektualisasi.

dan maka dari itu pula, aku ingin orang memakai rasa, bukan untuk orang lain tapi untuk dirinya.

Aku adalah orang yang tidak tenang dengan perasaanku sendiri. Setiap bertemu dengan orang, aku mudah mengkategorisasikan hubungannya, tapi perasaanku biasa-biasa saja dalam semua kategori.

kurasa aku mulai bisa menuliskan tentang rasa, tapi masih begitu tabu bagiku untuk mengatakannya.

karena ungkapan rasa itu begitu spesial bagiku, sehingga kupikir (baca: bukan kurasa) biarkan saja berada di tempatnya yang spesial.

Ada orang yang begitu mudah mengungkapkan rasa, ha......betapa nikmatnya orang itu.
dia bisa membuat orang lain tau apa rasanya orang itu bagi dirinya.

Bahkan bila pun aku menundukkan kepalaku terus-menerus untuk menunjukkan rasa hormatku, itu pun suatu saat nanti bila tidak diungkapkan bisa diartikan "pengacuhan".

Benar, kadang kau perlu mengungkapkan apa yang kau rasa, bukan apa yang kau pikir.

sudahlah, aku sudah mulai pusing dengan hal beginian.
Selama dalam hatiku rasa itu bisa ditemukan jenis kosa katanya, itu lebih baik, daripada rasa yang tak terdefinisikan dan tak berwarna.

This is a note from your daughter

Mother, how are you today?
this is a note from your daughter.
with me, everything is okay.
Mother, don't worry, i'm fine.....

Kata Beliau, ini adalah lagu pengiring tidurku saat aku masih berada dalam 'ayunan'

Walaupun di suatu hari dulu kala, aku pernah bertanya kenapa bisa dilahirkan, sekarang aku bertanya untuk apa dilahirkan. ini bukan pernyataan penyesalan, tapi aku hanya ingin hidup dan mati sia-sia. setidaknya bila pun aku hidup karena suatu kebetulan, maka ini merupakan kebetulan yang indah dan ajaib, untuk itu tak ingin aku akhiri dengan 'kebetulan mati'.

Mama, satu bulan ini aku hanya sempat menjawab sapaanmu 3 kali. i miss you like crazy.
saat tadi kau menelponku, aku hanya sempat menjawab 1 menit dan karena tugas duniawi aku menutupnya.

Mama, kata orang begini, namanya profesional.

tapi mama.....profesional itu kurasa kejam sekali. profesional itu membuatku merasa tidak nyaman dan bersalah.
Mama, banyak orang bangga dan mengagumi orang-orang sepertiku tadi. tapi mama, apa mereka juga seperti keadaanku sekarang, menangis penuh penyesalan.

Mama, kau hanya memberikan waktumu 1 kali di hari minggu untuk membalas kerinduanmu setiap minggu, karena aku tahu, kau sangat mempercayaiku dan kewajibanku sebagai mahasiswa dan kau tunda menagih hakmu atas kewajibanku sebagai anak.

Mama, aku tahu kau ingin membuatku menjadi profesional, tapi......

profesional dengan cara barat seperti ini sungguh mendangkalkan hati dan menajamkan materi, mama.

Mama, kurasa orang-orang sepertiku tadi itu tidak profesional, tapi mereka buta, buta akan duniawi, dan menenggelamkan rasa.

Mama, bila aku profesional, maka aku harus bisa menyenangkan dirimu sebagai anak, membanggakan dirimu sebagai status profesiku, dan selalu membuatmu tenang dengan segala sikap dewasaku. Mama, begitu baru profesional.

Kesederhanaan itu harmonisasi manusia & alam

Bloggie, hari ini dari program intervensi yang aku lakukan justru aku dapat pelajaran yang menampar dan berharga bagiku....

sekian kalinya, aku melihat sosok orisinil dari sosok manusia violet, justru aku belajar darinya bahwa

[dari yang terlihat tidak sempurna justru menyimpan kesempurnaan sejati]


ouh memalukan sekali, justru karenanya aku sungguh merasa percaya diri dengan mahkluk di bumi. dan mungkin aku tak bisa menjadi inspirasi baginya, tapi terima kasih untuk ketulusannya.

Untuk itu menjadi berlipat ganda lagi keyakinanku bahwa kesederhanaan itu adalah salah satu deposito kekayaan sejati.

aku suka kesederhanaan, melihat kesederhanaan itu seperti melihat harmonisasi manusia dan alam.

aku sudah kesederhanaan, karena dengannya tak ada yang merasa dituntut dan menuntut.

aku suka kesederhanaan, karena manusia jadi bisa memeluk siapa saja dengan bebasnya.

aku suka kesederhanaan, karena aku bisa mencintai semua orang tanpa ketakutan.

Dengarkan aku....

Dulu, aku juga pernah merasa begitu....

Karena dulu aku belum tahu warna manusia itu tidak hanya 12 atau mejikuhibiniu. manusia itu warnanya persis seperti bunglon.

manusia bisa mengangkatmu dan menjatuhkanmu, manusia bisa mencintaimu kemudian berbalik membencimu, manusia bisa membuatmu menjadi spesial padahal bagi dia kau bukan apa-apa.

yang perlu kau lakukan adalah....Merasakannya.

Setiap stimulus yang kau terima, kau harus berhati-hari merasakannya.

Dengarkan aku, memang banyak orang berkata perasaan itu sangat subjektif, tapi rasio itu adalah kognitif yang dapat menghancurkan juga.

Bila aku ingin memahami dan melihat pengetahuan luas maka akan aku gunakan rasio dan kognitif, tapi bila aku ingin benar menebak dan memahami warna manusia aku gunakan RASA. karena warna manusia tidak hanya satu, maka kau tidak pernah bisa objektif menilainya.

Gunakan rasa, dan jangan takut dengan subjektivitas. Subjektivitas hanyalah objektivitas yang belum terkumpulkan data-datanya.

Can't Be Shared

Seperti Ibu dosen bilang, pengalaman seseorang memang hanya bisa dideskripsikan pada orang lain, karena experience can't be shared. rasanya tidak akan sama antara yang mengalami dan yang hanya mendengarkan.

Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees (no one) no one feels the pain (no one)
I shed teardrops in the rain

Ketika melihat lirik lagu ini, konsep pertama kali yang kudapat adalah....ya, memang tidak bisa dirasakan sama antara actor dan observer.

Berjuta-juta kata-kata dan ribuan tulisan yang aku hasilkan dan aku biarkan kalian membacanya pun tidak mungkin akan dapat kalian rasakan sama dengan rasa bagaimana aku menulisnya. kalian hanya bisa mengerti arti tulisan itu atas dasar pemaknaan kognitif.

hari ini temanku ingin menyerah untuk mendapatkan wanita yang dipuja. karena sepertinya dia telah mendapatkan jawaban yang mengarah ke sana.

Hati, siapa yang bisa memaksakan, sama seperti mana ada orang yang boleh memaksakan orang lain untuk berhenti berharap dan berusaha.

Aku, bila sudah menyukai (more than friends) maka selamanya, aku tidak menyerah. karena mungkin mekanisme defenseku lebih sering menggunakan rasionalisasi dan intelektualisasi sehingga bila tidak bersama pun aku tetap akan menyukai, berharap, mendoakan yang terbaik dan akan sangat senang bila dia dapat yang terbaik.

karena.....hubungan semacam ini, tidak memiliki aktor penuduh dan tertuduh. semua tergantung selera masing-masing.

hal prinsipal yang kupegang adalah...Tidak ada pemaksaan ! ! !

Bila tidak suka jangan dipaksakan, bila suka...........[aku juga sulit sih mengatakan].

Intinya, mungkin karena aku terbiasa merasakan indahnya perasaan saat aku menyukai seseorang dan altruismeku yang tiba-tiba meningkat dibandingkan menarik tubuh orang yang kusukai dan kuiikat bersamaku *bukan berarti ini hebat atau bagus, tapi ini hanyalah sebuah kompensasi dari ketakutan akan konsekuensi buruk yang didapat bila mengakui*

ini bukan solusi yang terbaik.

Efek samping dari konsekuensi ini adalah....LONELINESS

Background

Powered By Blogger

Siapa Aku

My photo
Tanjung Duren, Jakarta, Indonesia
Kata Agama, Aku dari Tanah. Kata Otak, Aku sekumpulan sirkuit saraf. Kata huruf aku ANY. Kata Hati, Aku berjiwa, jiwa manusia, selayak-layaknya keberadaan manusia di muka bumi.